Pages

Kamis, 04 Juli 2013

Pembelajaran

        Beberapa hal memang mengajarkan kita untuk berfikir dan menelaah. Ada hal yang memang baik pada masa sekarang, tapi berakibat buruk di masa depan, atau ada pula yang terlihat baik tapi karena kita tidak berfikir sehat malah menjerumuskan secara perlahan. Seperti itulah hidup, semua adalah pembelajaran. Ilmu kadang bisa jadi perisai untuk kita agar tidak menjadi korban, tapi menurut saya yang paling pokok adalah agama. Bagaimana kita merasa diawasi Tuhan, jadi segala apapun yang kita lakukan akan menjadi benar, sesuai dengan apa yang Tuhan ajarkan. Tapi, setan tidak tinggal diam bukan? Mereka sudah berjanji mengganggu sekuat tenaga agar kita mau mengikutinya.
       Saya pun pernah merasa bodoh, dimana saya pernah beberapa kali memilih hal yang salah. Ah, itu masa lalu, kali ini saya mulai belajar untuk berfikir jernih, memiliki pikiran yang visioner, bahwa hidup tak akan sama, tak akan selalu sedih, pun tak akan selalu gembira. Mulai memilih teman, memilih teman hidup juga. Hehe. Saya rasa, saya sudah menemukan teman .itu, calon tepatnya. Tapi, kehendak Tuhan siapa yang tahu. :D

Tulisan iseng ketika berdiam di Foodcourt

Sabtu, 13 April 2013

Belajar Berkebun (Maafkan Kami, Pak Tani!)

Hari Jumat kemarin, saya bersama wali kelas yang lain mengajak anak didik kami untuk berkebun. Murid kami adalah siswa akhir SMP yang sebentar lagi akan mengahadapi Ujian Nasional. Daripada mereka menganggur dan tidak ada pekerjaan sambil menunggu waktu UN, kami sengaja memilih kegiatan berkebun karena manfaat yang didapat tentunya tidak bisa disepelekan.

                                        





Kita berkebun Tomat dan Cabai. Karena bibit tomat dan cabai harus disimpan dulu di dalam polybag selama dua hari, maka kami terlebih dahulu menggarap ladang yang akan kami tanami. Serunya, karena ini pertama kali bagi mereka jadi banyak hal konyol yang terjadi. Mulai dari mencabut rumput dengan parang, karena tenaga wanita yang minim (manja sih sebenernya) jadilah proses pencabutan rumput tersebut memakan waktu yang lama, belum lagi penemuan cacing (ceilah penemuan) yang membuat mereka menjerit. Kami membagi tugas, ada yang mencabut rumput, mencangkul, membuat gundukan tanah untuk ditanami bibit, pagar, dan gapura.

Alhamdulillah semua mengerjakan tugasnya masing-masing. Kami pun sebagai wali kelas ikut membantu. Ada beberapa hikmah yang kami ambil dari berkebun kemarin;
  1.  Team Work yang terjalin diantara siswa
  2. Menanamkan nilai-nilai tentang lingkungan
  3. Membentuk karakter agar tidak menjadi manja
  4. Menumbuhkan mental untuk menghargai para Petani
  5. Mengisi liburan dengan hal yang bermanfat
Jadi, bagi para guru yang ingin mengisi kegiatan siswa akhir dengan kegiatan yang useful and fun  bisa dengan mengajak mereka dengan kegiatan berkebun agar mereka tahu bagaimana perjuangan para Petani dan tidak sembarangan membuang nasi ataupun hasil tani lainnya. ^_^





Senin, 17 Desember 2012

Menjadi Guru Muda

            Ini tulisan pertama saya tentang pengalaman bagaimana menjadi seorang Guru Muda. Tak mudah menjalani amanah sebagai guru di usia muda, ketika mental masih labil, dan hasrat ingin bermain masih membuncah. Pertama kali saya diamanahi sebagai seorang guru, plus menjadi wali kelas satu SMP. Itu rasanya seperti tidak karuan, apalagi ditambah keinginan melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi, bangku kuliah. Sebelumnya, saya adalah lulusan salah satu SMA yang kemudian diberi amanah oleh Kepala Sekolah untuk mengabdi bersama beberapa teman lainnya. Mungkin ada sekitar 15 orang yang terpanggil oleh Kepsek untuk menjalankan amanh ini. Tapi, empat teman saya kemudian mengundurkan diri, karena akan melanjutkan kuliah. Saya pun pernah berpikiran seperti itu, namun setelah berkonsultasi dengan orang tua, saya agak mulai menyadari bahwa amanat dari guru kita sendiri harus dijalankan, terlebih doa dari seorang guru begitu mustajab. Kemudian niat untuk mundur pun pudar, meskipun ada gejolak yang membuat saya selalu ingin keluar.
            Mulailah saya menjadi guru pada tahun 2010. Saya mulai menghadapi masalah-masalah dari para murid yang memang kebanyakan manja, terkadang saya pun stress. Ada perasaan bahwa saya tidak mampu menjalani aktivitas seperti ini. Mulai dari mengurus murid-murid yang nakal, manja, dsb. Lalu tiba-tiba kabar yang bagi saya itu adalah buruk datang. Perlu diketahui, asalnya masa pengabdian pada sekolah adalah satu tahun, namun ada pemberitahuan bahwa guru pengabdian harus menjalani kuliah yang otomatis membuat saya lebih lama mengabdikan diri, minimal selama 4 tahun, dan jurusan kuliah pun dipilih oleh sekolah. Disana saya makin stress, apalagi melihat teman-teman saya di luar yang bebas memilih jurusan mereka sendiri. Kebetulan saya menginginkan jurusan Sastra Inggris. Meskipun saya mengajar Bahasa Inggris, tapi saya memimpikan menjadi mahasiswa dengan teman-teman di Universitas yang bonafit.
            Awal perkuliahan begitu menyiksa bagi saya. Terkadang saya absen karena ini tidak sesuai dengan kemauan saya. Kuliah saya agak kacau. Tapi agak kaget juga, pas melihat IPK semester satu, saya terkejut, ternyata nilainya adalah tiga koma sekian. Padahal saya menyadari bahwa kuliah agak berantakan. Aneh, ya. Hehehe… saya kembali konsultasi pada orang tua. Bagi saya ibu adalah motivator terhebat melebihi Mario Teguh. Hoho.. pastinya. Saya mulai menyadari bahwa pengorbanannya melebihi dengan apa yang saya lakukan. Karena kebetulan beliau adalah tulang punggung keluarga, meskipun ayah juga bekerja. Saya merasa malu sebagai anak sulung. Saya tak mau dianggap anak yang tidak member contoh bagi adik saya, yang Alhamdulillah sekarang menjadi ketua OSIS.
Oh iya, perlu diketahui bahwa saya kuliah dibiayai oleh pihak sekolah. Semua guru pengabdian dijamin pendidikannya oleh sekolah. Nah, beberapa waktu kemudian saya sadar karena itu. Bagaimana tidak malu, ketika kita menjalankan amanat dengan fasilitas enak. Kuliah gratis. Makan gratis. Diberi uang jajan pula. Sekarang, saya sudah mulai menikmati peran sebagai Guru. Murid saya sekarang sudah kelas 3 SMP. Mereka sudah berasa menjadi anak sendiri. Rasanya kadang bersalah ketika saya khilaf dengan menelantarkan mereka. Ada rasa bersalah ketika mereka melakukan kesalahan, mungkin karena saya yang kurang membimbing. Semoga kedepannya saya mampu menjadi Wali Kelas dan Ibu yang baik untuk murid-murid saya. Love y’all…
           

Jumat, 19 Agustus 2011

100 target (Updated everyday)

  • Be a good teacher for my students
  • Be a good poetry writer 
  • Participate on theatre show
  • Be a Famous Blogger
  • Antologi puisi karya Noverita Mustika Ati dipajang di Gramedia 
  • Lulus kuliah tepat waktu
  • Be a backpacker and around the whole world 
  • Menjadi muslimah yang kaya
  • Anfa' Linnas 
  • Mendaki gunung Rinjani